Selasa, 22 September 2020

 

BARBALAS PANTUN

(Karya bersama kelas VII-A)

 

NO

A B A N G

A D I K

1

Ke tengah pulau naik perahu

Pergi ke Paris jual kelapa

Kalau boleh aku tahu

Adik manis namanya siapa

Ke Yunani membeli sambal

Pasar Kendal tempatnya kurma

Abang ini orangnya gombal

Baru kenal kok tanya nama

2

Ke Sabang pergi bertamu

Ikan kapak anaknya hiu

Kalau abang kenal namamu

Maksud abang bilang I love you

Dari Sumedang membawa kayu

Kayu dibidik tinggallah dahan

Silakan abang bilang I love you

Tapi adik bukan cewek murahan

3

Ambil badik kupaslah duku

Buah jati dibuat jamu

Kalau adik menolak cintaku

Aku rela mati di hadapanmu

Beli garam ke Pamekasan

Di malam hari melihat bulan

Abang gak merasa muka pas-pasan

Merayu adik di tengah jalan

4

Ke Sumenep ke Pamekasan

Tanah Sabang tempat beruang

Biar abang muka pas-pasan

Tapi abang kan banyak uang

Hari kemarin telah berlalu

Beli kelapa beli semangka

Abang ini tak tahu malu

Buruk rupa buruk pun tingkah

5

Pergi  ke Sabang membeli pipa

Pergi ke pasar beli semangka

Meskipun abang buruk rupa

Tapi banyak gadis yang suka

Pergi ke Jombang membawa nangka

Nyasar di hutan duduk di gua

Memang abang banyak yang suka

Tapi yang suka si janda tua

6

 Ke Palembang membeli buah

Pergi ke pasar beli kedondong

Meski yang suka abang janda tua

Daripada adik gadis yang sombong

Ke Jakarta beli kedondong

Sampai di sana membeli perak

Meski adik orangnya sombong

Ketimbang abang bergaya norak

7

Ke Jakarta membeli  merak

Pergi ke Sampang naik sampan

Meski abang bergaya norak

Tapi abang orangnya sopan

Kapal terbang mengangkut dipan

Ke Surabaya hampir sebulan

Kalau abang mengaku sopan

Kok tanya nama di tengah jalan

8

Pergi ke Sabang membeli jamu

Membeli arang membakar duku

Maksud abang tanya namamu

Aku beri tahukan orang tuaku

Membeli besi besi berkarat

Pergi ke taman memebli plastik

Abang  ini kayak buaya darat

Kok mau melamar adik yang cantik

9

Pergi ke Sampang membeli batik

Mampir ke toko  membeli cat

Memang abang akui adik cantik

Tapi hatimu kok amat bejat

Naik ke gunung tebing dipanjat

Mengambil pisang dari lumajang

Boleh adik dibilang bejat

Daripada abang mata keranjang

10

 

 

 

Beli batik ke tanah merah

Pergi berlayar ke laut banda

Kumohon adik tidaklah marah

Maksud abang hanya bercanda

Ada udang di balik batu

Ke jakarta menanam ganja

Kalau abang memang begitu

Mari kita berteman saja

Terima Kasih

 

Sabtu, 19 September 2020

 

MERAMU RINDUKU

 Oleh : H. Jamad, M.Pd.

 

 

            Pada tengah pekat malam, hening sepi menyatu dalam larut mimpi.  Duh ...., mengapa lelap tidurku tiba-tiba terusik sesuatu. Sementara kantuk masih membalut kuduk mataku. Sontak aku kaget dan terbangun dari tidur. Kutatap jam dinding yang tergantung di bilik kamarku, pukul 01.25. Sementara dingin masih menyelimuti tubuhku saat kucoba duduk bersandar di sandaran dipan tempat tidur.

Aku coba menggeliat meregangkan otot-otot badan dan mencairkan kepanikan. Aku berusaha mengurai lamunan yang sempat menyelinap di balik mimpiku. Seketika terbayang wajah orang yang selama ini banyak berjasa dalam hidupku. Ya, ibuku. Mengapa tiba-tiba ibuku seperti hadir dalam mimpi di tengah lelap tidurku?

Rabu, 16 September 2020

 

Mengajar sambil Belajar 

di Tengah Pandemi Covid-19

(JawaMadura)

            Mewabahnya virus corona yang dikenal dengan nama Covid-19 sangat berdampak terhadap berbagai sisi kehidupan. Beberapa adaptasi harus dilakukan masyarakat hampir semua lini kehidupan selama pandemi virus corona. Selain karyawan yang diminta bekerja dari rumah, mahasiswa dan siswa juga terpaksa belajar di tempat tinggalnya masing-masing. Sejak tanggal 16 sampai dengan 29 Maret 2020 semua siswa harus melakukan belajar mandiri di rumah masing-masing. Ketika kondisinya masih belum menentu, maka pihak pemerintah memperpanjang waktu belajar di rumah hingga tanggal 22 April 2020.

            Di balik sebuah peristiwa, pasti ada suatu hikmah yang terkandung di dalamnya.  Itulah sebuah kalimat bijak yang mengandung pesan mendalam. Berangkat dari kalimat bijak tersebut, ada pengalaman menarik dari saya sebagai guru yang mengajar di sebuah sekolah menengah tepatnya di SMP Negeri 1 Dasuk - Sumenep, sebuah sekolah yang terletak di kecamatan sekira 20 kilometer dari kota. Sebelum melakukan belajar mandiri di rumah, anak-anak sudah saya siapkan segala sesuatunya. Saya berusaha meyakinkan  siswa bahwa pembelajaran harus tetap berjalan walaupun antara guru dengan siswa berjauhan.

Minggu, 13 September 2020

Mengapa Kita Perlu Menulis

           Sebelum membaca artikel berikut, alangkah baiknya kita merenungkan pesan tiga orang tokoh berikut:

1. Umar Ibn Khattab R.A.: Ajarkanlah sastra kepada anak-anak kalian, karena sastra akan mengubah jiwa pengecut menjadi pemberani

2. Imam Ghazali : Jika Anda bukan berasal dari keturunan bangsawan atau orang-orang yang berpengaruh, maka jadilah penulis/pengarang.

3. Pramudya Ananta Toer:

 Menulislah kamu, karena jika tidak menulis, maka kamu akan hilang dari sejarah       masyarakat. Karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.  

    

Sabtu, 12 September 2020

 Pantun Pandemi Covid-19

Pengalaman mengajar selama pandemi Covid-19 ini saya abadikan dalam pantun-pantun, syair, dan puisi yang bertema “Belajar dari Pandemi Covid-19.” Semoga bermanfaat.


Kapal karet baru berlabuh

Ke Philipina menjual arang

Sejak Maret duaribu duapuluh

Virus corona dikenal orang


 

Habis mandi pakailah celana

Orang Belanda suka sabun cair

Warga bersedih karena corona

Mewabah melanda di tanah air

 

Pergi ke Banjar beli pelana

Di tengan taman berujak timun

Kita belajar dari corona

Tingkatkan iman kuatkan imun

 

Senin, 31 Agustus 2020

Opini

 

Eksistensi Pesantren dan Dunia Literasi

(Oleh : H. Jamad, M.Pd.)

 

            Dahulu, pondok pesantren oleh sebagian orang diasumsikan sebagai sebuah lembaga yang dijadikan tempat penitipan anak-anak yang nakal atau mereka yang tak mau nurut dengan orang tuanya. Jika seseorang memiliki beberapa anak, maka anak yang paling nakal itu biasanya dititipkan di pondok pesantren. Terlepas dari benar atau salah anggapan itu, yang jelas ketika orang tua mempunyai anak yang dalam kesehariannya sulit diatur, cenderung nakal, sering membandel, biasanya orang tua punya rencana menitipkan anaknya di pondok pesantren. Ketika ditanya orang tentang kelanjutan pendidikan anaknya, mereka mengatakan bahwa anaknya dipondokkan karena nakal, sering keluyuran bersama teman-temannya. Walaupun hal tersebut tidak berlaku umum bagi semua orang tua, mungkin stigma itu hanya terjadi pada orang-orang tertentu yang mungkin karena minimnya informasi tentang pondok pesantren yang mereka ketahui.

Selasa, 18 Februari 2020


PANTUN NASIHAT MADURA

Duri ona’ kembangnga pote
Namun temmo e tabun dhaja
Adu na’ kana’ mara pagate
Nyareya elmo pabalangaja

                   Ka tenggina melleya jamo
                   Campor accem so bigi kapo
                   Bila ba’na la asango elmo
                   Odhi’ senneng ta’ gampang etepo