Mengajar sambil Belajar
di Tengah
Pandemi Covid-19
(JawaMadura)
Mewabahnya
virus corona yang dikenal dengan nama Covid-19 sangat berdampak terhadap berbagai
sisi kehidupan. Beberapa adaptasi
harus dilakukan masyarakat hampir semua lini kehidupan selama pandemi virus
corona. Selain karyawan
yang diminta bekerja dari rumah, mahasiswa dan siswa juga terpaksa belajar di
tempat tinggalnya masing-masing. Sejak tanggal 16 sampai dengan 29 Maret 2020 semua siswa harus melakukan
belajar mandiri di rumah masing-masing. Ketika kondisinya masih belum menentu,
maka pihak pemerintah memperpanjang waktu belajar di rumah hingga tanggal 22
April 2020.
Di balik sebuah peristiwa, pasti ada
suatu hikmah yang terkandung di dalamnya. Itulah sebuah kalimat bijak yang mengandung
pesan mendalam. Berangkat dari kalimat bijak tersebut, ada pengalaman menarik
dari saya sebagai guru yang mengajar di sebuah sekolah menengah tepatnya di SMP
Negeri 1 Dasuk - Sumenep, sebuah sekolah yang terletak di kecamatan sekira 20
kilometer dari kota. Sebelum melakukan belajar mandiri di rumah, anak-anak
sudah saya siapkan segala sesuatunya. Saya berusaha meyakinkan siswa bahwa pembelajaran harus tetap berjalan
walaupun antara guru dengan siswa berjauhan.
Di sekolah kami pembelajaran dikoordinir oleh wali kelas dalam komunitas
grup WhatsApp kelas. Komunitas grup kelas memang sudah biasa berjalan sebagai
media komunikasi antara wali kelas dengan siswa dan dengan orang tua. Semua
informasi dari pihak sekolah biasanya langsung disampaikan melalui komunitas
wali kelas tersebut. Demikian juga semua penyampaian siswa yang berupa
pertanyaan, keluhan, izin tidak masuk, dan lain sebaginya juga dapat
disampaikan melalui komunitas tersebut. Hanya saja ada beberapa kendala yang
sering terjadi, misalnya; a) ada beberapa siswa yang belum memiliki handphone
yang bisa menggunakan aplikasi WhatsApp, b) pada saat paket internetnya habis,
siswa tidak bisa bergabung c) ada siswa yang lokasi rumahnya jauh dari
jangkauan signal internet, d) ada siswa yang masih tergantung pada handphone
orang tuanya, e) ada siswa yang sudah kecanduan bermain game sehingga
kesempatan memegang handphone digunakan bermain game omline.
Untuk meminimalisir kemungkinan kendala tersebut, pada minggu pertama
saya mengadakan kunjungan ke rumah-rumah siswa. Melalui kunjungan itu saya tahu
bahwa setiap siswa memiliki penafsiran yang beragam tentang belajar di rumah,
baik dari siswa itu sendiri maupun orang tuanya. Sebagian dari mereka ada yang
mengira bahwa yang dikatakan belajar di rumah itu adalah siswa diliburkan.
Padahal pada saat terakhir masuk tanggal 16 Maret 2020 sekolah sudah
mengirimkan surat kepada orang tua yang isinya bahwa selama periode 14 hari (16
s.d. 29 Maret 2020) siswa belajar mandiri di rumah.
Sebagai pengajar guru bahasa Indonesia, materi pelajaran saya sampaikan
melalui media WhattsApp lewat komunitas grup wali kelas. Materi yang
disampaikan bermacam macam ada yang disampaikan berupa foto, file, audio, dan video.
Materi yang berupa pemahaman teks, bahan bacaan diambilkan dari seputar
informasi Covid-19, sebagaimana yang dianjurkan oleh pihak pemerintah bahwa
kita jangan terlalu mengejar ketercapaian kurikulum. Yang terpenting siswa diajari
pengetahuan praktis dalam hal memahami cara mencegah terjangkitnya virus corona
di tengah pandemi Covid-19 ini. Setelah membaca teks bacaan yang diberikan,
siswa diminta menjawab pertanyaan yang diberikan sesuai dengan isi teks bacaan
tersebut.
Dengan membaca dan menjawab
pertanyaan tersebut, sudah ada beberapa pengetahuan dan manfaat yang diperoleh
siswa. Dari segi pengetahuan, siswa dapat memahami beberapa hal yang menyangkut
Covid-19 ; 1) termasuk jenis apakah covid-19 itu, 2) bagaimana cara
penularannya, 3) bagaimana cara pencegahannya biar tidak tertular, 4) bagaimana
merawat pasien yang terpapar covid-19, 5) dan lain-lain.
Namun yang terpenting bagi siswa seusia SMP adalah bagaimana cara
mengurang terjangkitnya Covid-19 dengan cara melakukan beberapa hal yaitu ; 1)
mengurangi keluar rumah jika tidak ada keperluan yang mendesak, 2) sering
mencuci tangan dengan memakai sabun di air yang mengalir, 3) memakai masker
sesuai petunjuk yang benar, 4) menjaga jarak dengan orang saat berbicara atau
pada saat berkumpul dengan orang, 5) menjaga
kondisi tubuh dengan makan yang bergizi.
Pertanyaan yang diberikan bermacam-macam; dapat berupa
jawaban singkat, pertanyaan yang jawabannya menjelaskan, pertanyaan yang
jawabannya menyebutkan, menjodohkan, dan lain-lain. Bisa juga berupa pertanyaan
yang berupa teka-teki silang. Tujuan pertanyaan yang bervariasi adalah agar
siswa tidak bosan dengan tugas-tugas yang monoton atau tidak bervariasi.
Untuk menghindari rasa jenuh atau bosan, saya memberikan selingan
berupa permainan yang dikirim melalui WhattsApp. Selingan permainan itu
biasanya diberikan pada hari Sabtu, menjelang libur malam Minggu atau pada hari
Minggu. Fungsi dari permainan tersebut agar siswa tidak terlalu tegang dalam
melaksanakan tugas-tugas yang diberikan gurunya. Ada beberapa contoh permainan yang
saya sampaikan kepada siswa di antaranya :
1.
Menemukan beberapa angka dalam gambar :
Berdasarkan gambar di atas, anak diminta untuk menemukan angka-angka yang tertulis di dalamnya. Dari permainan ini jawaban yang diberikan siswa beragam. Dari keragaman tersebut kita dapat berdiskusi atau saling beradu argumen melalui media komunitas WhattsApp tersebut. Ada yang menjawab hanya separuh, ada juga yang jawabannya sudah lengkap sesuai kunci. Kunci jawaban yang benar adalah sebagai berikut : angka 2,3,4,6,7,8, dan 9.
2. Menemukan hewan dalam sebuah gambar :
|
|
|
Berdasarkan gambar di atas, siswa
disuruh menemukan gambar wajah orang sebanyak-banyaknya. Jawaban siswa akan
beragam, ada yang menjawab empat, enam, delapan, dan ada yang memberikan
jawaban sepuluh. Jawaban yang benar sesuai kunci adalah sepuluh
(10) gambar wajah orang dalam gambar tersebut.
3.
Menemukan kata (Bahasa Inggris) dalam gambar :
|
|
|
|
Jawaban
anak bervariasi, ada yang tidak menemukan, ada yang menjawab dua kata, tiga kata, empat kata, dan ada pula yang
lengkap. Kata-kata yang terdapat dalam
gambar di atas sesuai kuncinya adalah : BOOK. STORY, NOVEL, WORDS, READ, dan
PAGE.
4.
Menemukan tiga gambar binatang yaitu : kelelawar, kupu-kupu, dan itik.
|
|
|
|
Permainan semacam di atas hanya sebagai selingan atau hiburan
bagi siswa agar mereka tidak bosan atau jenuh dengan tugas-tugas mata pelajaran
yang diberikan gurunya. Masih banyak contoh permainan yang bisa kita berikan
kepada siswa sesuai dengan kreativitas kita. Permainan seperti itu dapat
menggantikan kesenangan anak yang suka bermain game yang mungkin secara tidak
langsung merugikan anak.
Ada beberapa kisah berkesan yang perlu saya ceritakan dalam
tulisan ini yang menyangkut keberadaan siswa di rumahnya:
1.
Saya mendapatkan sambutan yang baik dari kedua orang tuanya. Anak ini
pada tugas pertama tidak menyetorkan tugas. Setelah saya tanyakan pada orang
tuanya (ibunya) mengatakan bahwa sengaja tidak membelikan paket anaknya karena
setiap dibelikan paket selalu dibuat bermain game dengan teman-temannya.
Setelah saya tanyakan surat yang dari sekolah, ternyata diberikan ke neneknya,
yang neneknya tidak tahu maksud dari isi surat tersebut. Lalu saya jelaskan
kepada orang tuanya bahwa anak bukan diliburkan tetapi dialihkan untuk belajar
mandiri di rumah yang disampaikan melalui media WhattsAp. Setelah mendengar
penjelasan saya, orang tuanya menjadi paham.
2.
Ada beberapa anak yang hingga hari kedua tidak aktif dalam komunitas
grup wali kelas. Setelah saya cek ke rumahnya, jawaban yang bersangkutan tidak
ada tugas yang masuk ke handphone-nya. Setelah saya cek ternyata tugas
yang berupa gambar oleh guru pengajarnya tidak terunduh di HP-nya. Saya
berkesimpulan bahwa jaringan internet di lokasi sekitar rumahnya lemah. Menurut
penuturan orang tuanya, anaknya dibelikan paket yang berkapasitas 4 GB yang
harganya Rp30.000,00 sebulan. Lalu saya bantu koneksinya melalui jaringan
hospot handphone saya. Hasilnya, tugas-tugas yang berupa gambar, audio
bisa terunduh semua.
3.
Ketika saya baru sampai di rumah salah seorang siswa sekitar pukul 09.00
WIB., saya langsung menemui orang tuanya karena saya tidak melihat anak yang
akan saya temui. Setelah saya menanyakan tentang keberadaan anaknya, dia
menunjukkan raut muka kaget. Awalnya saya dikira mau melaporkan tentang
permasalahan anaknya. Menurut cerita orang tuanya bahwa beberapa hari
sebelumnya dia dipanggil oleh guru BK karena anaknya bertengkar dengan
temannya. Lalu saya memberikan penjelasan bahwa kedatangan saya hanya mau
mengecek anaknya tentang kegiatan belajar mandiri di rumahnya. Ternyata anaknya
masih dalam keadaan tidur di kamarnya. Menurut orang tuanya, anaknya tidur
hingga larut malam sehingga bangunnya kesiangan.
4.
Ada beberapa siswa yang sama sekali tidak pernah aktif dalam pertemuan
online. Mereka tidak pernah menyetorkan tugas, tidak pernah mengajukan
pertanyaan, dan lain-lain, seperti tema-temannya yang lain. Setelah saya
kunjungi ke rumahnya baru saya tahu bahwa anak tersebut terkendala ekonomi.
Orang tuanya tergolong ekonomi menengah ke bawah. Melihat kondisi rumahnya,
mungkin memang sulit mereka membelikan handphone anaknya. Jangankan
untuk membelikan HP android, HP biasa saja mungkin tidak memiliki. Bahkan
mungkin untuk membeli kebutuhan sehari-harinya saja mereka masih perlu mencari
hutangan.
Dari kenyataan inilah kita perlu menyadari bahwa tingkat ekonomi orang
tua siswa bervariasi. Ada yang ekonominya tergolong menengah ke atas, golongan
menengah, dan golongan menengah ke bawah. Nah, kelompok yang ketiga inilah yang
perlu kita perhatikan. Terkadang kita tidak melihat tingkat ekonomi orang tua siswa saat memberikan tugas, terutama
dalam belajar melalui moda daring (online) ini.
Selain pengalaman di atas, ada pengalaman menarik yang
terjadi pada diri saya sendiri. Pengalaman ini menjadi sebuah kenangan yang
sangat berkesan dan bermanfaat dalam hidup saya sebagai seorang guru. Semoga
pengalaman baik ini menjadi sebuah pemompa semangat saya untuk terus belajar dan
belajar terus. Saya teringat pada sebuah petuah bijak, “Belajar tidak mengenal
usia.” Jadi pada kesempatan yang baik, dalam rangka menjalankan tugas di rumah,
saya tidak menyia-nyiakan waktu senggang untuk belajar. Waktu senggang saya
manfaatkan untuk mengejar apa yang
menjadi kekurangan saya.
Sejalan dengan kemajuan teknologi, sudah ada beberapa sekolah yang
menerapkan Digital School atau Smart School khususnya di
Kabupaten Sumenep. Sekolah tempat saya mengajar, termasuk sekolah pinggiran
tepatnya di sebuah kecamatan. Jadi, sekolah kami tidak menerapkan Digital
School. Bagi sekolah yang menerapkan Digital School guru-gurunya
sudah diberikan pelatihan atau workshop penerapan aplikasi yang mendukung
kegiatan pembelajaran di sekolah tersebut. Secara umum, guru-guru yang mengajar
di sekolah yang ditunjuk melaksanakan program Digital School, sudah
belajar beberapa misalnya; aplikasi google form, google classroom, edmodo, zoom,
dan lain-lain. Terus terang aplikasi-aplikasi tersebut masih asing di benak
saya. Namun saya ingin sekali belajar untuk mengejar ketinggalan saya agar
tidak menjadi guru yang gaptek (gagap teknologi) atau guru jadul (jaman
dulu).
Kebetulan pada saat itu semua siswa
dialihkan belajar di rumah berhubung dampak pandemi Covid-19, semua anak saya
dan keponakan juga sedang di rumah melaksanakan belajar di rumah. Nah, melalui
anak saya dan keponakan, saya belajar aplikasi yang semestinya digunakan oleh
guru zaman digital ini. Alhasil, dalam waktu yang tidak terlalu lama saya bisa
menguasai yang saya pelajari. Bahkan melalui sebuah aplikasi Google
Classroom, saya berhasil membuat sebuah kuis yang saya beri nama “Kuis
Sehat Anticovid-19.” Kuis tersebut saya beri alamat link: http://bit.ly/kuisanticorona1, lalu
saya sebar ke komunitas guru baik di Sumenep maupun di luar kabupaten. Alhamdulillah,
kuis tersebut mendapat sambutan yang baik hingga memperoleh tiga ratus lebih respons dari peserta kuis. (Sumenep,
April 2020)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tulis Komenntar Anda di sini