Rabu, 16 September 2020

 

Mengajar sambil Belajar 

di Tengah Pandemi Covid-19

(JawaMadura)

            Mewabahnya virus corona yang dikenal dengan nama Covid-19 sangat berdampak terhadap berbagai sisi kehidupan. Beberapa adaptasi harus dilakukan masyarakat hampir semua lini kehidupan selama pandemi virus corona. Selain karyawan yang diminta bekerja dari rumah, mahasiswa dan siswa juga terpaksa belajar di tempat tinggalnya masing-masing. Sejak tanggal 16 sampai dengan 29 Maret 2020 semua siswa harus melakukan belajar mandiri di rumah masing-masing. Ketika kondisinya masih belum menentu, maka pihak pemerintah memperpanjang waktu belajar di rumah hingga tanggal 22 April 2020.

            Di balik sebuah peristiwa, pasti ada suatu hikmah yang terkandung di dalamnya.  Itulah sebuah kalimat bijak yang mengandung pesan mendalam. Berangkat dari kalimat bijak tersebut, ada pengalaman menarik dari saya sebagai guru yang mengajar di sebuah sekolah menengah tepatnya di SMP Negeri 1 Dasuk - Sumenep, sebuah sekolah yang terletak di kecamatan sekira 20 kilometer dari kota. Sebelum melakukan belajar mandiri di rumah, anak-anak sudah saya siapkan segala sesuatunya. Saya berusaha meyakinkan  siswa bahwa pembelajaran harus tetap berjalan walaupun antara guru dengan siswa berjauhan.

Di sekolah kami pembelajaran dikoordinir oleh wali kelas dalam komunitas grup WhatsApp kelas. Komunitas grup kelas memang sudah biasa berjalan sebagai media komunikasi antara wali kelas dengan siswa dan dengan orang tua. Semua informasi dari pihak sekolah biasanya langsung disampaikan melalui komunitas wali kelas tersebut. Demikian juga semua penyampaian siswa yang berupa pertanyaan, keluhan, izin tidak masuk, dan lain sebaginya juga dapat disampaikan melalui komunitas tersebut. Hanya saja ada beberapa kendala yang sering terjadi, misalnya; a) ada beberapa siswa yang belum memiliki handphone yang bisa menggunakan aplikasi WhatsApp, b) pada saat paket internetnya habis, siswa tidak bisa bergabung c) ada siswa yang lokasi rumahnya jauh dari jangkauan signal internet, d) ada siswa yang masih tergantung pada handphone orang tuanya, e) ada siswa yang sudah kecanduan bermain game sehingga kesempatan memegang handphone digunakan bermain game omline.  

Untuk meminimalisir kemungkinan kendala tersebut, pada minggu pertama saya mengadakan kunjungan ke rumah-rumah siswa. Melalui kunjungan itu saya tahu bahwa setiap siswa memiliki penafsiran yang beragam tentang belajar di rumah, baik dari siswa itu sendiri maupun orang tuanya. Sebagian dari mereka ada yang mengira bahwa yang dikatakan belajar di rumah itu adalah siswa diliburkan. Padahal pada saat terakhir masuk tanggal 16 Maret 2020 sekolah sudah mengirimkan surat kepada orang tua yang isinya bahwa selama periode 14 hari (16 s.d. 29 Maret 2020) siswa belajar mandiri di rumah.

Sebagai pengajar guru bahasa Indonesia, materi pelajaran saya sampaikan melalui media WhattsApp lewat komunitas grup wali kelas. Materi yang disampaikan bermacam macam ada yang disampaikan berupa foto, file, audio, dan video. Materi yang berupa pemahaman teks, bahan bacaan diambilkan dari seputar informasi Covid-19, sebagaimana yang dianjurkan oleh pihak pemerintah bahwa kita jangan terlalu mengejar ketercapaian kurikulum. Yang terpenting siswa diajari pengetahuan praktis dalam hal memahami cara mencegah terjangkitnya virus corona di tengah pandemi Covid-19 ini. Setelah membaca teks bacaan yang diberikan, siswa diminta menjawab pertanyaan yang diberikan sesuai dengan isi teks bacaan tersebut.

          Dengan membaca dan menjawab pertanyaan tersebut, sudah ada beberapa pengetahuan dan manfaat yang diperoleh siswa. Dari segi pengetahuan, siswa dapat memahami beberapa hal yang menyangkut Covid-19 ; 1) termasuk jenis apakah covid-19 itu, 2) bagaimana cara penularannya, 3) bagaimana cara pencegahannya biar tidak tertular, 4) bagaimana merawat pasien yang terpapar covid-19, 5) dan lain-lain.

Namun yang terpenting bagi siswa seusia SMP adalah bagaimana cara mengurang terjangkitnya Covid-19 dengan cara melakukan beberapa hal yaitu ; 1) mengurangi keluar rumah jika tidak ada keperluan yang mendesak, 2) sering mencuci tangan dengan memakai sabun di air yang mengalir, 3) memakai masker sesuai petunjuk yang benar, 4) menjaga jarak dengan orang saat berbicara atau pada saat berkumpul dengan orang, 5)  menjaga kondisi tubuh dengan makan yang bergizi.

            Pertanyaan yang diberikan bermacam-macam; dapat berupa jawaban singkat, pertanyaan yang jawabannya menjelaskan, pertanyaan yang jawabannya menyebutkan, menjodohkan, dan lain-lain. Bisa juga berupa pertanyaan yang berupa teka-teki silang. Tujuan pertanyaan yang bervariasi adalah agar siswa tidak bosan dengan tugas-tugas yang monoton atau tidak bervariasi.

Untuk menghindari rasa jenuh atau bosan, saya memberikan selingan berupa permainan yang dikirim melalui WhattsApp. Selingan permainan itu biasanya diberikan pada hari Sabtu, menjelang libur malam Minggu atau pada hari Minggu. Fungsi dari permainan tersebut agar siswa tidak terlalu tegang dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan gurunya. Ada beberapa contoh permainan yang saya sampaikan kepada siswa di antaranya :

1.      Menemukan beberapa angka dalam gambar :

                    

            Berdasarkan gambar di atas, anak diminta untuk menemukan angka-angka yang tertulis di dalamnya. Dari permainan ini jawaban yang diberikan siswa beragam. Dari keragaman tersebut kita dapat berdiskusi atau saling beradu argumen melalui media komunitas WhattsApp tersebut. Ada yang menjawab hanya separuh, ada juga yang jawabannya sudah lengkap sesuai kunci. Kunci jawaban yang benar adalah sebagai berikut : angka 2,3,4,6,7,8, dan 9. 

2.      Menemukan hewan dalam sebuah gambar :

    





 

             Berdasarkan gambar di atas, siswa disuruh menemukan gambar wajah orang sebanyak-banyaknya. Jawaban siswa akan beragam, ada yang menjawab empat, enam, delapan, dan ada yang memberikan jawaban sepuluh. Jawaban yang benar sesuai kunci  adalah  sepuluh (10) gambar wajah orang dalam gambar tersebut.

3.      Menemukan kata (Bahasa Inggris) dalam gambar :




 





          

Jawaban anak bervariasi, ada yang tidak menemukan, ada yang menjawab dua kata,  tiga kata, empat kata, dan ada pula yang lengkap.  Kata-kata yang terdapat dalam gambar di atas sesuai kuncinya adalah : BOOK. STORY, NOVEL, WORDS, READ, dan PAGE.

4.      Menemukan tiga gambar binatang yaitu : kelelawar, kupu-kupu, dan itik.


                

 




           


Permainan semacam di atas hanya sebagai selingan atau hiburan bagi siswa agar mereka tidak bosan atau jenuh dengan tugas-tugas mata pelajaran yang diberikan gurunya. Masih banyak contoh permainan yang bisa kita berikan kepada siswa sesuai dengan kreativitas kita. Permainan seperti itu dapat menggantikan kesenangan anak yang suka bermain game yang mungkin secara tidak langsung merugikan anak.                     

Ada beberapa kisah berkesan yang perlu saya ceritakan dalam tulisan ini yang menyangkut keberadaan siswa di rumahnya:

1.      Saya mendapatkan sambutan yang baik dari kedua orang tuanya. Anak ini pada tugas pertama tidak menyetorkan tugas. Setelah saya tanyakan pada orang tuanya (ibunya) mengatakan bahwa sengaja tidak membelikan paket anaknya karena setiap dibelikan paket selalu dibuat bermain game dengan teman-temannya. Setelah saya tanyakan surat yang dari sekolah, ternyata diberikan ke neneknya, yang neneknya tidak tahu maksud dari isi surat tersebut. Lalu saya jelaskan kepada orang tuanya bahwa anak bukan diliburkan tetapi dialihkan untuk belajar mandiri di rumah yang disampaikan melalui media WhattsAp. Setelah mendengar penjelasan saya, orang tuanya menjadi paham.

2.      Ada beberapa anak yang hingga hari kedua tidak aktif dalam komunitas grup wali kelas. Setelah saya cek ke rumahnya, jawaban yang bersangkutan tidak ada tugas yang masuk ke handphone-nya. Setelah saya cek ternyata tugas yang berupa gambar oleh guru pengajarnya tidak terunduh di HP-nya. Saya berkesimpulan bahwa jaringan internet di lokasi sekitar rumahnya lemah. Menurut penuturan orang tuanya, anaknya dibelikan paket yang berkapasitas 4 GB yang harganya Rp30.000,00 sebulan. Lalu saya bantu koneksinya melalui jaringan hospot handphone saya. Hasilnya, tugas-tugas yang berupa gambar, audio bisa terunduh semua.

3.      Ketika saya baru sampai di rumah salah seorang siswa sekitar pukul 09.00 WIB., saya langsung menemui orang tuanya karena saya tidak melihat anak yang akan saya temui. Setelah saya menanyakan tentang keberadaan anaknya, dia menunjukkan raut muka kaget. Awalnya saya dikira mau melaporkan tentang permasalahan anaknya. Menurut cerita orang tuanya bahwa beberapa hari sebelumnya dia dipanggil oleh guru BK karena anaknya bertengkar dengan temannya. Lalu saya memberikan penjelasan bahwa kedatangan saya hanya mau mengecek anaknya tentang kegiatan belajar mandiri di rumahnya. Ternyata anaknya masih dalam keadaan tidur di kamarnya. Menurut orang tuanya, anaknya tidur hingga larut malam sehingga bangunnya kesiangan.

4.      Ada beberapa siswa yang sama sekali tidak pernah aktif dalam pertemuan online. Mereka tidak pernah menyetorkan tugas, tidak pernah mengajukan pertanyaan, dan lain-lain, seperti tema-temannya yang lain. Setelah saya kunjungi ke rumahnya baru saya tahu bahwa anak tersebut terkendala ekonomi. Orang tuanya tergolong ekonomi menengah ke bawah. Melihat kondisi rumahnya, mungkin memang sulit mereka membelikan handphone anaknya. Jangankan untuk membelikan HP android, HP biasa saja mungkin tidak memiliki. Bahkan mungkin untuk membeli kebutuhan sehari-harinya saja mereka masih perlu mencari hutangan.

Dari kenyataan inilah kita perlu menyadari bahwa tingkat ekonomi orang tua siswa bervariasi. Ada yang ekonominya tergolong menengah ke atas, golongan menengah, dan golongan menengah ke bawah. Nah, kelompok yang ketiga inilah yang perlu kita perhatikan. Terkadang kita tidak melihat tingkat ekonomi orang  tua siswa saat memberikan tugas, terutama dalam belajar melalui moda daring (online) ini.

                   Selain pengalaman di atas, ada pengalaman menarik yang terjadi pada diri saya sendiri. Pengalaman ini menjadi sebuah kenangan yang sangat berkesan dan bermanfaat dalam hidup saya sebagai seorang guru. Semoga pengalaman baik ini menjadi sebuah pemompa semangat saya untuk terus belajar dan belajar terus. Saya teringat pada sebuah petuah bijak, “Belajar tidak mengenal usia.” Jadi pada kesempatan yang baik, dalam rangka menjalankan tugas di rumah, saya tidak menyia-nyiakan waktu senggang untuk belajar. Waktu senggang saya manfaatkan untuk mengejar  apa yang menjadi kekurangan saya.

Sejalan dengan kemajuan teknologi, sudah ada beberapa sekolah yang menerapkan Digital School atau Smart School khususnya di Kabupaten Sumenep. Sekolah tempat saya mengajar, termasuk sekolah pinggiran tepatnya di sebuah kecamatan. Jadi, sekolah kami tidak menerapkan Digital School. Bagi sekolah yang menerapkan Digital School guru-gurunya sudah diberikan pelatihan atau workshop penerapan aplikasi yang mendukung kegiatan pembelajaran di sekolah tersebut. Secara umum, guru-guru yang mengajar di sekolah yang ditunjuk melaksanakan program Digital School, sudah belajar beberapa misalnya; aplikasi google form, google classroom, edmodo, zoom, dan lain-lain. Terus terang aplikasi-aplikasi tersebut masih asing di benak saya. Namun saya ingin sekali belajar untuk mengejar ketinggalan saya agar tidak menjadi guru yang gaptek (gagap teknologi) atau guru jadul (jaman dulu).

            Kebetulan pada saat itu semua siswa dialihkan belajar di rumah berhubung dampak pandemi Covid-19, semua anak saya dan keponakan juga sedang di rumah melaksanakan belajar di rumah. Nah, melalui anak saya dan keponakan, saya belajar aplikasi yang semestinya digunakan oleh guru zaman digital ini. Alhasil, dalam waktu yang tidak terlalu lama saya bisa menguasai yang saya pelajari. Bahkan melalui sebuah aplikasi Google Classroom, saya berhasil membuat sebuah kuis yang saya beri nama “Kuis Sehat Anticovid-19.” Kuis tersebut saya beri alamat link: http://bit.ly/kuisanticorona1, lalu saya sebar ke komunitas guru baik di Sumenep maupun di luar kabupaten. Alhamdulillah, kuis tersebut mendapat sambutan yang baik hingga memperoleh tiga ratus lebih  respons dari peserta kuis. (Sumenep, April 2020)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komenntar Anda di sini