Sabtu, 19 September 2020

 

MERAMU RINDUKU

 Oleh : H. Jamad, M.Pd.

 

 

            Pada tengah pekat malam, hening sepi menyatu dalam larut mimpi.  Duh ...., mengapa lelap tidurku tiba-tiba terusik sesuatu. Sementara kantuk masih membalut kuduk mataku. Sontak aku kaget dan terbangun dari tidur. Kutatap jam dinding yang tergantung di bilik kamarku, pukul 01.25. Sementara dingin masih menyelimuti tubuhku saat kucoba duduk bersandar di sandaran dipan tempat tidur.

Aku coba menggeliat meregangkan otot-otot badan dan mencairkan kepanikan. Aku berusaha mengurai lamunan yang sempat menyelinap di balik mimpiku. Seketika terbayang wajah orang yang selama ini banyak berjasa dalam hidupku. Ya, ibuku. Mengapa tiba-tiba ibuku seperti hadir dalam mimpi di tengah lelap tidurku?


            Kucoba melangkahkan kaki yang masih terasa kaku, keluar dari kamar. Kulihat foto ibu yang tergantung di dinding ruang tamu. Kuambil foto itu yang sudah lama kutaruh dan tak pernah kubersihkan. Aku mengelap foto itu dengan kertas tisu basah. Hem..., aku merasakan ada seuntai senyum di balik bibirnya. Terbayang segudang kenangan jasa yang selama ini mungkin belum sempat kubalas. Ada beban perasaan yang belum terlunasi  menyangkut kebahagiaannya sebagai orang tuaku.

Memang, sejak aku ditinggal ayah saat aku masih kelas dua SMA, ibu sangat perhatian padaku. Hampir semua keinginanku diperhatikan. Aku sering dibuatkan masakan kesukaanku. Jika ibu pergi ke pasar, aku pasti dibelikan kue kesukaanku sepeti pisang goreng, kue getas, tape singkong, kue cucur (kocor = Madura), dan lain-lain.  Maklumlah karena semua saudaraku sudah berkeluarga, tinggal aku saja yang belum menemukan jodoh.

Walaupun aku sudah memiliki pekerjaan tetap, ibu masih menaruh perhatian padaku. Mulai dari hal-hal yang kecil, hingga masalah jodohku sering ditanyakan oleh ibu. Aku ingat betul apa yang pernah disampaikan saat ibu sudah mulai sakit-sakitan, hampir menjelang ajalnya. Aku mengerti apa yang menjadi harapan ibu. Yang mungkin saja merupakan salah satu bentuk kebahagiaan baginya. Namun harapan ibu hingga saat itu belum semuanya kupenuhi.

           “Ibu mengharap kau secepatnya mencari jodohmu!” Saran ibu saat itu. Ketika itu ibu sudah mulai menderita penyakit yang memerlukan pengobatan intensif. Aku mengangguk mengahargai permintaan ibu.

            “Ibu sudah ingin melihat kamu bahagia bersama istri dan anakmu dalam rumah tanggamu. Aku ingin menimang cucuku yang dari kamu. Tentu lucu seperti saat kamu masih kecil dulu.” Kalimat-kalimat seperti itu sepertinya sudah beberapa kali keluar dari mulut ibuku. Namun aku masih belum bisa memberikan jawaban yang menggembirakannya.

            “Jodoh tidak usah dicari, Bu. Katanya, masalah ajal dan jodoh sudah ditentukan Tuhan, siapa orangnya dan kapan waktunya,” jawabku membela diri.

            “Tapi namanya manusia harus punya ikhtiar, harus ada usaha. Bukan hanya berpangku tangan menunggu keajaiban dari langit.” Ibu tersenyum menatapku sinis karena aku masih berkutat dalam pendirianku. Aku tetap berusaha menjaga kata-kataku agar tidak membuat luka perasaan ibuku.

            “Usaha sudah, Bu, tapi masih belum dipertemukan mungkin.” Jawabku singkat. Aku tidak ingin hati ibu bersedih dan marah mendengar jawabanku.

            “Ibu tidak usah berpikir terlalu jauh dengan jodohku! Siapa orangnya, masih dipilihkan yang terbaik oleh Tuhan. Doakan saja aku dipilihkan jodoh yang terbaik. Tuhan Mahatahu apa yang diinginkan Ibu. Percayalah, Bu! Sekarang ibu harus banyak istirahat, biar penyakit Ibu segera disembuhkan.” Jawaban yang kuberikan untuk menghibur hatinya. Kulihat ibu mengangguk dan tersenyum mendengar jawabanku.

ooooOoooo

 

Percakapan itulah yang masih teringat betul di ingatanku, sehingga aku merasa berhutang jasa kepada ibuku yang hingga saat ini masih belum terlunasi. Aku merasa menyimpan beban perasaan bahwa aku masih belum bisa membahagiakan hatinya. Seandainya bisa kuminta untuk mengundur ajal ibu, mungkin harus aku lakukan agar aku masih memiliki kesempatan untuk membalas jasanya. Aku masih berjanji dan berusaha untuk memenuhi harapan ibu. Namun apa yang mesti aku lakukan. Barangkali beban pikiran ini yang mengingatkanku pada masa lalu.

Kulihat jarum jam dinding sudah menunjuk pada pukul 02.00. Aku pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudu.  Lalu kulanjutkan salat malam. Selesai salat kusempatkan berdoa, memohon petunjuk-Nya. “Ya Allah, ampuni dosa-dosa dan kesalahan ibuku. Berikan kebahagiaan di hatinya. Tempatkanlah beliau di tempat yang terbaik di sisi-Mu. Masukkanlah dalam Surga Naim-Mu. Berikan jalan dan kesempatan kami membalas jasa-jasa ibu, Amiiin.”

Sejenak aku duduk, dalam tafakur bermunajat kepada Allah. Aku mencari alternatif sebuah cara bagaimana bisa menyapa ibu walau dalam mimpi. Aku beranjak menuju meja tulis tempat kerjaku. Tiba-tiba tangnku meraih laptop kerjaku. Kubuka laptop, lalu kucari gambar foto-foto di laptop. Tak satupun ada foto ibuku. Memang, laptop ini aku miliki setelah beberapa lama meninggalnya ibu. Hanya foto-foto anakku dan istriku. Ah, bagaimana aku mengirimkan foto-foto keluargaku pada ibu? Aku ingin ibu tersenyum bahagia melihat foto anak-anakku. Andai ibu masih ada, mungkin dia senang melihat dan bermain-main bersama anak-anakku.

Aku buka lembaran word lalu kutulis sebuah surat untuk menyampaikan kabar keluargaku kepada ibu. Entah mengapa, tiba-tiba jari tanganku mengarahkanku untuk menulis surat itu. Berikut isi surat yang selesai aku ketik.

 

                                                                                                Teruntuk Ibuku tercinta

                                                                                                Di sana

            Assalamu alaikum warahmatullahi wabarkatuh,

            Bagaimana kabar ibu ? Semoga Ibu selalu dalam keadaan bahagia. Kami sekeluarga di rumah dalam keadaan sehat wal afiat.

            Oh, ya Ibu, kami sekeluarga mohon maaf karena baru kali ini memberikan kabar keluargaku. Kuharap Ibu mamahami semua ini. Aku teringat  pada pesan Ibu dulu ketika disampaikan saat Ibu masih sehat. Bukankah Ibu ingin melihat kehidupan keluargaku bersama anak dan istriku. Ibu ingin melihat dan menimang cucu Ibu yang dari aku.

            Ibu ....., sekarang Ibu sudah memiliki tiga orang cucu dari aku. Cucu Ibu yang pertama perempuan bernama Indah. Dia sekarang sudah hampir lulus kuliah. Cucu Ibu  yang kedua laki-laki bernama Naufal. Naufal sekarang sudah duduk di bangku kelas XI di sebuah SMA Malang. Dan anak ketiga juga laki-laki bernama Anaz, sekarang masih kelas V SD. Alhamdulillah cucu-cucu Ibu sehat.

            Ibu, cucu-cucu Ibu seringkali menanyakan Ibu. Mereka ingin tahu wajah Ibu. Tapi sayang kami tidak memiliki foto Ibu yang bagus. Yang ada hanya foto yang difoto ulang dari foto KTP Ibu.

            “Yah, ibu ayah yang mana?” Nenek ada di mana sekarang, Yah?” Pertanyaan mereka yang sering disampaikannya. Aku berikan jawaban untuk menghilangkan rasa penasaran mereka bahwa nenekmu sedang istirahat.

            Ibu, cucu-cucu Ibu sering aku ajak ke tempat istirahat Ibu. Di sana kami ajak untuk membacakan surat Yasin dan berdoa. Setiap malam Jumat kami mengaji Yasin bersama dan membaca tahlil untuk Ibu. Kami mendoakan agar Ibu diampuni semua dosa dan hidup bahagia di sisi-Nya.

            Oh, ya, Bu, bersama surat ini aku kirim foto cucu-cucu Ibu. Aku mengharap Ibu menerima dan bisa memandang cucu-cucu Ibu di foto ini. Dengan kiriman foto ini semoga bisa mengobati kerinduan kami serta bisa menjadi sesuatu jalan kebahagiaan Ibu.







Ibu ....

Senyummu masih kusimpan

Di sudut-sudut kamar

Saat bumi gelisah

Mengatur arah

Kutatap bingkai-bingkai asamu

Kaupun semakin tersenyum

 

Ibu ....

Kurindu belai kasihmu

Senyum yang kau ukir dulu

Menghias hidupku

Seindah hidayah-Nya

 

Ibu .........

Pada relung malam nan sepi

Sunyi

Hadirlah kau dalam mimpiku

Kan kuusap keringatmu

dari jerih keringatku

 

 

 

 

 

Ibu....., cukup sekian dulu suratku, semoga berkenan di hati Ibu.

                        Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarkatuh.


Sembah sungkem dari anak Ibu,


 


          H. JAMAD

 

ooooOoooo

 

            Begitulah isi surat yang telah kubuat sebagai ungkapan rasa kangen kepada ibuku. Surat itu aku cetak dua rangkap. Dengan penuh hati-hati kulipat lembar surat itu. Kemudian aku bungkus dengan amplop surat ukuran folio. Lalu aku lem rapat-rapat dan kutaruh di atas meja kerjaku. Amplop putih bersih tanpa alamat hanya bertuliskan kata “Surat untuk Ibu.”

Sejenak kemudian, aku termenung menatap surat yang aku buat dan aku bungkus itu. Mau dikirim ke mana surat ini? Bukankah ibu sudah berada di alam lain. Aku sempat bengong, apa yang bisa kulakukan setelah menulis surat ini. Memang, rasa kangenku pada ibu sedikit terobati setelah menuangkan isi hatiku ke dalam surat ini. Apa yang harus kulakukan? Mengapa aku melakukan ini semua? Ah, apakah aku melakukan ini di luar kesadaranku?

            Aku terdiam dalam alam lamunanku, merenungi keanehan yang telah aku lakukan. Beberapa saat kemudian aku seperti mendapatkan sebuah wangsit, bahwa surat ini akan aku kemas dalam sebuah buku. Surat ini akan aku bukukan bersama beberapa penulis lain dalam sebuah buku antologi bersama yang bertema “Surat untuk Ibu.”

--------Sekian -------

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komenntar Anda di sini