MERAMU RINDUKU
Pada tengah pekat malam, hening sepi
menyatu dalam larut mimpi. Duh ...., mengapa
lelap tidurku tiba-tiba terusik sesuatu. Sementara kantuk masih membalut kuduk
mataku. Sontak aku kaget dan terbangun dari tidur. Kutatap jam dinding yang
tergantung di bilik kamarku, pukul 01.25. Sementara dingin masih menyelimuti
tubuhku saat kucoba duduk bersandar di sandaran dipan tempat tidur.
Aku
coba menggeliat meregangkan otot-otot badan dan mencairkan kepanikan. Aku berusaha
mengurai lamunan yang sempat menyelinap di balik mimpiku. Seketika terbayang
wajah orang yang selama ini banyak berjasa dalam hidupku. Ya, ibuku. Mengapa
tiba-tiba ibuku seperti hadir dalam mimpi di tengah lelap tidurku?
Kucoba melangkahkan kaki yang masih
terasa kaku, keluar dari kamar. Kulihat foto ibu yang tergantung di dinding
ruang tamu. Kuambil foto itu yang sudah lama kutaruh dan tak pernah
kubersihkan. Aku mengelap foto itu dengan kertas tisu basah. Hem..., aku
merasakan ada seuntai senyum di balik bibirnya. Terbayang segudang kenangan jasa
yang selama ini mungkin belum sempat kubalas. Ada beban perasaan yang belum
terlunasi menyangkut kebahagiaannya
sebagai orang tuaku.
Memang,
sejak aku ditinggal ayah saat aku masih kelas dua SMA, ibu sangat perhatian padaku.
Hampir semua keinginanku diperhatikan. Aku sering dibuatkan masakan kesukaanku.
Jika ibu pergi ke pasar, aku pasti dibelikan kue kesukaanku sepeti pisang
goreng, kue getas, tape singkong, kue cucur (kocor = Madura), dan lain-lain. Maklumlah karena semua saudaraku sudah
berkeluarga, tinggal aku saja yang belum menemukan jodoh.
Walaupun aku sudah memiliki pekerjaan tetap, ibu masih menaruh perhatian padaku. Mulai dari hal-hal yang kecil, hingga masalah jodohku sering ditanyakan oleh ibu. Aku ingat betul apa yang pernah disampaikan saat ibu sudah mulai sakit-sakitan, hampir menjelang ajalnya. Aku mengerti apa yang menjadi harapan ibu. Yang mungkin saja merupakan salah satu bentuk kebahagiaan baginya. Namun harapan ibu hingga saat itu belum semuanya kupenuhi.
“Ibu mengharap kau secepatnya
mencari jodohmu!” Saran ibu saat itu. Ketika itu ibu sudah mulai menderita
penyakit yang memerlukan pengobatan intensif. Aku mengangguk mengahargai
permintaan ibu.
“Ibu sudah ingin melihat kamu
bahagia bersama istri dan anakmu dalam rumah tanggamu. Aku ingin menimang cucuku
yang dari kamu. Tentu lucu seperti saat kamu masih kecil dulu.” Kalimat-kalimat
seperti itu sepertinya sudah beberapa kali keluar dari mulut ibuku. Namun aku
masih belum bisa memberikan jawaban yang menggembirakannya.
“Jodoh tidak usah dicari, Bu. Katanya,
masalah ajal dan jodoh sudah ditentukan Tuhan, siapa orangnya dan kapan
waktunya,” jawabku membela diri.
“Tapi namanya manusia harus punya ikhtiar,
harus ada usaha. Bukan hanya berpangku tangan menunggu keajaiban dari langit.” Ibu
tersenyum menatapku sinis karena aku masih berkutat dalam pendirianku. Aku
tetap berusaha menjaga kata-kataku agar tidak membuat luka perasaan ibuku.
“Usaha sudah, Bu, tapi masih belum
dipertemukan mungkin.” Jawabku singkat. Aku tidak ingin hati ibu bersedih dan
marah mendengar jawabanku.
“Ibu tidak usah berpikir terlalu
jauh dengan jodohku! Siapa orangnya, masih dipilihkan yang terbaik oleh Tuhan. Doakan
saja aku dipilihkan jodoh yang terbaik. Tuhan Mahatahu apa yang diinginkan Ibu.
Percayalah, Bu! Sekarang ibu harus banyak istirahat, biar penyakit Ibu segera
disembuhkan.” Jawaban yang kuberikan untuk menghibur hatinya. Kulihat ibu
mengangguk dan tersenyum mendengar jawabanku.
ooooOoooo
Percakapan
itulah yang masih teringat betul di ingatanku, sehingga aku merasa berhutang
jasa kepada ibuku yang hingga saat ini masih belum terlunasi. Aku merasa
menyimpan beban perasaan bahwa aku masih belum bisa membahagiakan hatinya.
Seandainya bisa kuminta untuk mengundur ajal ibu, mungkin harus aku lakukan
agar aku masih memiliki kesempatan untuk membalas jasanya. Aku masih berjanji
dan berusaha untuk memenuhi harapan ibu. Namun apa yang mesti aku lakukan.
Barangkali beban pikiran ini yang mengingatkanku pada masa lalu.
Kulihat
jarum jam dinding sudah menunjuk pada pukul 02.00. Aku pergi ke kamar mandi
untuk mengambil wudu. Lalu kulanjutkan
salat malam. Selesai salat kusempatkan berdoa, memohon petunjuk-Nya. “Ya Allah,
ampuni dosa-dosa dan kesalahan ibuku. Berikan kebahagiaan di hatinya.
Tempatkanlah beliau di tempat yang terbaik di sisi-Mu. Masukkanlah dalam Surga
Naim-Mu. Berikan jalan dan kesempatan kami membalas jasa-jasa ibu, Amiiin.”
Sejenak
aku duduk, dalam tafakur bermunajat kepada Allah. Aku mencari alternatif sebuah
cara bagaimana bisa menyapa ibu walau dalam mimpi. Aku beranjak menuju meja
tulis tempat kerjaku. Tiba-tiba tangnku meraih laptop kerjaku. Kubuka laptop,
lalu kucari gambar foto-foto di laptop. Tak satupun ada foto ibuku. Memang,
laptop ini aku miliki setelah beberapa lama meninggalnya ibu. Hanya foto-foto
anakku dan istriku. Ah, bagaimana aku mengirimkan foto-foto keluargaku pada
ibu? Aku ingin ibu tersenyum bahagia melihat foto anak-anakku. Andai ibu masih
ada, mungkin dia senang melihat dan bermain-main bersama anak-anakku.
Aku
buka lembaran word lalu kutulis sebuah surat untuk menyampaikan kabar
keluargaku kepada ibu. Entah mengapa, tiba-tiba jari tanganku mengarahkanku untuk
menulis surat itu. Berikut isi surat yang selesai aku ketik.
Teruntuk Ibuku tercinta
Di
sana
Assalamu
alaikum warahmatullahi wabarkatuh,
Bagaimana
kabar ibu ? Semoga Ibu selalu dalam keadaan bahagia. Kami sekeluarga di rumah
dalam keadaan sehat wal afiat.
Oh, ya
Ibu, kami sekeluarga mohon maaf karena baru kali ini memberikan kabar
keluargaku. Kuharap Ibu mamahami semua ini. Aku teringat pada pesan Ibu dulu ketika disampaikan saat Ibu
masih sehat. Bukankah Ibu ingin melihat kehidupan keluargaku bersama anak dan
istriku. Ibu ingin melihat dan menimang cucu Ibu yang dari aku.
Ibu
....., sekarang Ibu sudah memiliki tiga orang cucu dari aku. Cucu Ibu yang
pertama perempuan bernama Indah. Dia
sekarang sudah hampir lulus kuliah. Cucu Ibu yang kedua laki-laki bernama Naufal. Naufal sekarang sudah duduk di bangku kelas XI di sebuah SMA Malang. Dan
anak ketiga juga laki-laki bernama Anaz,
sekarang masih kelas V SD. Alhamdulillah cucu-cucu Ibu sehat.
Ibu,
cucu-cucu Ibu seringkali menanyakan Ibu. Mereka ingin tahu wajah Ibu. Tapi
sayang kami tidak memiliki foto Ibu yang bagus. Yang ada hanya foto yang difoto
ulang dari foto KTP Ibu.
“Yah,
ibu ayah yang mana?” Nenek ada di mana sekarang, Yah?” Pertanyaan mereka yang
sering disampaikannya. Aku berikan jawaban untuk menghilangkan rasa penasaran
mereka bahwa nenekmu sedang istirahat.
Ibu,
cucu-cucu Ibu sering aku ajak ke tempat istirahat Ibu. Di sana kami ajak untuk
membacakan surat Yasin dan berdoa. Setiap malam Jumat kami mengaji Yasin
bersama dan membaca tahlil untuk Ibu. Kami mendoakan agar Ibu diampuni semua
dosa dan hidup bahagia di sisi-Nya.
Oh, ya,
Bu, bersama surat ini aku kirim foto cucu-cucu Ibu. Aku mengharap Ibu menerima
dan bisa memandang cucu-cucu Ibu di foto ini. Dengan kiriman foto ini semoga
bisa mengobati kerinduan kami serta bisa menjadi sesuatu jalan kebahagiaan Ibu.
|
|
|
|
Ibu ....
Senyummu masih
kusimpan
Di sudut-sudut
kamar
Saat
bumi gelisah
Mengatur
arah
Kutatap
bingkai-bingkai asamu
Kaupun
semakin tersenyum
Ibu ....
Kurindu belai
kasihmu
Senyum yang kau
ukir dulu
Menghias hidupku
Seindah hidayah-Nya
Ibu .........
Pada relung
malam nan sepi
Sunyi
Hadirlah kau
dalam mimpiku
Kan kuusap
keringatmu
dari jerih
keringatku
Ibu....., cukup sekian dulu suratku, semoga berkenan di
hati Ibu.
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarkatuh.
Sembah sungkem
dari anak Ibu,
H. JAMAD
ooooOoooo
Begitulah isi surat yang telah kubuat sebagai ungkapan
rasa kangen kepada ibuku. Surat itu aku cetak dua rangkap. Dengan penuh
hati-hati kulipat lembar surat itu. Kemudian aku bungkus dengan amplop surat ukuran
folio. Lalu aku lem rapat-rapat dan kutaruh di atas meja kerjaku. Amplop putih
bersih tanpa alamat hanya bertuliskan kata “Surat untuk Ibu.”
Sejenak
kemudian, aku termenung menatap surat yang aku buat dan aku bungkus itu. Mau
dikirim ke mana surat ini? Bukankah ibu sudah berada di alam lain. Aku sempat
bengong, apa yang bisa kulakukan setelah menulis surat ini. Memang, rasa
kangenku pada ibu sedikit terobati setelah menuangkan isi hatiku ke dalam surat
ini. Apa yang harus kulakukan? Mengapa aku melakukan ini semua? Ah, apakah aku melakukan
ini di luar kesadaranku?
Aku terdiam dalam alam lamunanku,
merenungi keanehan yang telah aku lakukan. Beberapa saat kemudian aku seperti
mendapatkan sebuah wangsit, bahwa surat ini akan aku kemas dalam sebuah buku.
Surat ini akan aku bukukan bersama beberapa penulis lain dalam sebuah buku
antologi bersama yang bertema “Surat untuk
Ibu.”
--------Sekian
-------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tulis Komenntar Anda di sini