Senin, 31 Agustus 2020

Opini

 

Eksistensi Pesantren dan Dunia Literasi

(Oleh : H. Jamad, M.Pd.)

 

            Dahulu, pondok pesantren oleh sebagian orang diasumsikan sebagai sebuah lembaga yang dijadikan tempat penitipan anak-anak yang nakal atau mereka yang tak mau nurut dengan orang tuanya. Jika seseorang memiliki beberapa anak, maka anak yang paling nakal itu biasanya dititipkan di pondok pesantren. Terlepas dari benar atau salah anggapan itu, yang jelas ketika orang tua mempunyai anak yang dalam kesehariannya sulit diatur, cenderung nakal, sering membandel, biasanya orang tua punya rencana menitipkan anaknya di pondok pesantren. Ketika ditanya orang tentang kelanjutan pendidikan anaknya, mereka mengatakan bahwa anaknya dipondokkan karena nakal, sering keluyuran bersama teman-temannya. Walaupun hal tersebut tidak berlaku umum bagi semua orang tua, mungkin stigma itu hanya terjadi pada orang-orang tertentu yang mungkin karena minimnya informasi tentang pondok pesantren yang mereka ketahui.

Yang lebih mengherankan lagi, ada sebagian orang tua yang menjadikan pondok pesantren itu sebagai alternatif hukuman bagi anaknya. Mereka melontarkan kalimat yang tidak enak didengar oleh anaknya, misalnya: “Kalau kamu nakal saya titipkan kamu ke pondok pesantren !” Dengan demikian anak merasa bahwa pondok pesantren itu suatu tempat yang menyengsarakan atau hukuman bagi dirinya. Banyak anak yang trauma dengan  kata-kata ancaman orang tuanya sehingga kalau dirinya akan dipondokkan, mereka menolak bahkan memilih tidak melanjutkan sekolah. Oleh karena itu pondok pesantren bukan menjadi pilihan favorit bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikannya.

Ada sebagian juga orang tua yang jika memiliki anak perempuan, mereka memilih meneruskan putrinya ke pondok pesantren, dengan alasan yang kurang masuk akal. Mereka menitipkan anaknya ke pondok pesantren hanya dijadikan batu loncata sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Di pondok pesantren, anaknya cukup disuruh belajar memperdalam ilmu agama. Kendati  mereka tahu bahwa di sana juga ada sekolah seperti M.Ts. maupun SMP Plus yang ada di lingkungan pesantren. Mereka tidak menganjurkan anaknya bersekolah belajar ilmu umum di sana. Menurut mereka bahwa anak perempuan percuma kalau disekolahkan tinggi-tinggi. Pada akhirnya anak perempuan hanya akan menjadi orang yang tugasnya cukup di rumah saja (DRS). Mereka beranggapan bahwa anak perempuan hanya sebatas macak, masak, dan manak, sehingga anak perempuan tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi. Hal tersebut bisa terjadi, mungkin karena keterbatasan informasi yang dimiliki mereka. Mereka tidak terbuka mata hatinya bahwa sebenarnya orang otua yang beranggapan sempit seperti itu sudah merampas sebagian hak anaknya untuk memperoleh pendidikan setara dengan laki-laki.

Namun seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman, ternyata pondok pesantren sempat menggeser paradigma lama. Pondok pesantren tidak lagi menjadi trade mark seperti anggapan orang awam yang tidak tahu banyak tentang pendidikan di pondok pesantren. Saat ini banyak pondok pesantren yang memiliki santri ribuan, bahkan santrinya berasal dari berbagai daerah di nusantara. Selain itu untuk masuk ke pondok pesantren yang favorit seleksinya tidak mudah. Para calon santri harus melalui seleksi yang ketat dan biasanya dilaksanakan lebih awal daripada sekolah-sekolah umum. Hal tersebut memberikan kesempatan bagi calon santri ketika tidak lolos di seleksi pendaftaran, mereka masih memiliki kesempatan melanjutkan di sekolah umum. Bahkan ada orang tua yang sudah mendaftarkan anaknya secara inden jauh sebelum pendaftaran dibuka.

Sebagai contoh, di Jawa Timur ada beberapa pondok pesantren  favorit yang memiliki santri ribuan, misalnya ; 1) Pondok Pesantren Al Amien Prenduan, Sumenep, 2) Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, 3) Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo, 4) Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, 5) Pondok Pesantren Langitan, Tuban, 6) Pondok Pesantren Ilmu Al Qur’an, Malang, 7) Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, 8) Pondok Pesantren As Salafi Al Fitrah, Surabaya, 9) Pondok Pesantren Amanatul Umah, Pacet, Mojokerto, 10) Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, dan lain-lain. Dari lulusan pondok pesantren itulah, sudah dihasilkan beberapa sastrawan, tokoh nasional,  menjadi orang sukses dan terkenal baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Dalam dunia tulis-menulis, jurnalis, sastrawan, budayawan, dan tokoh politik, juga banyak yang dari lulusan pondok pesantren. Mereka sempat turut berkontribusi memberikan warna tersendiri dalam kancah dunia kemajuan termasuk dalam bidang literasi. Mungkin sudah  banyak contoh penulis dari kalangan pesantren yang sempat mewarnai dunia literasi baik yang berupa fiksi maupun nonfiksi. Sebut saja misalnya; K.H. D. Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib,  Prof. Dr. Abdul Hadi MW,  K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Ahmad Tohari, Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik), Djamil Suherman, Ahmad Fuadi, Ma’ mun Affandy, serta penulis-penulis lain yang belakangan ini bermunculan dari kalangan santri.

            Di dalam dunia pesantren sebenarnya banyak sumber inspirasi yang bisa dijadikan tema tulisan, karena di pesantren sudah identik dengan dunia belajar. Membaca dan menulis mungkin sudah menjadi suatu hal yang biasa dilakukan oleh kalangan santri. Kang Abik (panggilan dari Habiburrahman El Shirazy) dalam sebuah acara pernah menyampaikan bahwa santri sebagai makhluk unik yang berada di lingkup pesantren mempunyai potensi yang sangat besar, apalagi yang ada dalam kehidupan santri sangat menarik apabila dijadikan bahan untuk menjadi sebuah tulisan atau karya. Menurutnya, para santri sudah terbiasa mempelajari tentang ilmu bahasa (balaghah). Selain itu ada satu kelebihan santri, yaitu mereka bisa belajar secara otodidak. Sesungguhnya suatu kelebihan tersebut yang perlu dikembangkan oleh santri untuk dijadikan bahan tulisan.

            Sebagaimana kita ketahui bahwa antara menulis dan membaca ibarat dua sisi mata uang, yang di antara keduanya saling memberikan fungsi dan saling mendukung. Membaca dapat diibaratkan sebagai sebuah nutrisi untuk mengembangkan tulisan. Dengan banyak membaca, maka akan menambah kekayaan inspirasi sebagai bahan menulis. Di lingkungan pesantren antara membaca dan menulis sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Mungkin hanya perlu energi pendukung untuk menggerakkan bakat dan  minat menulis. Adanya dukungan dan stimulus dari pihak ketiga tentunya sangat penting untuk menumbuhkan bibit bakat yang ada. Stimulus tersebut dapat berupa; bimbingan dan pembinaan, lomba menulis,  gerakan literasi santri, lomba membuat resensi yang dimulai dengan membaca buku, diadakan seminar, lokakarya, bedah buku, dan lain-lain.

Gerakan Satu Santri Satu Buku (SanTriTuKu) yang dikembangkan oleh sebuah pondok pesantren adalah sebuah wujud nyata untuk mengembangkan dunia literasi di kalangan pondok pesantren. Kegiatan semacam ini perlu dikenalkan kepada para santri untuk menjadi sebuah persyaratan dalam kegiatan akademis. Sebagai langkah awal bagi santri baru, mungkin diwajibkan membuat tulisan atau makalah yang selanjutnya dimuat dalam media yang ada di pesantren tersebut. Santri yang belum menyelesaikan kegiatan ini diberikan bimbingan khusus dan dirinya belum bisa mengikuti kegiatan akademis berikutnya. Dengan demikian para santri akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi persyaratan tersebut. Demikian juga bagi santri yang bisa menulis lebih dari batas minimal,  perlu diberikan samacam penghargaan sebagai motivasi bagi dirinya.

Bagi para santri yang sudah terbiasa menulis, harus dilanjutkan dengan penyusunan buku. Buku-buku yang dihasilkan oleh santri perlu diberikan reward atau semacam penghargaaan. Penghargaan tidak harus berupa materi. Ada beberapa alternatif untuk memberikan pengahargaan atau semacam pengakuan diri dari lembaga misalnya ; 1) buku hasil karyanya dipajang di perpustakaan, 2) diadakan pameran buku-buku baru, 3) dibuatkan resensi dan dimuat dalam media pesantren atau media umum, 4) diadakan acara launching atau peluncuran buku baru, 5) menggelar acara seminar dan bedah buku, dan lain-lain. Penghargaan-penghargaan semacam itu akan menambah semangat para santri untuk memacu dirinya agar terus menulis. Kegiatan-kegiatan tesebut juga berfungsi sebagai latihan untuk mengasah ketajaman santri dalam dunia tulis-menulis, serta menambah khasanah ke-Islaman.

Agar kegiatan gerakan menulis di kalangan pesantren bisa berjalan efektif, tentunya perlu adanya dukungan dari berbagai pihak, terutama dari pihak pengasuh dan pengajar. Pengasuh pondok memiliki peran penting dalam tercapainya program ini, karena sosok seorang pengasuh dalam hati santri sebagai panutan mutlak (ta’dzim). Selain itu  motivasi dari pengajar atau ustadz / ustadzah di sana sangat diperlukan. Jika semua pihak terkait sudah bisa berjalan dengan langkah yang sama dan saling mendukung, langkah selanjutnya adalah menjalin kerja sama dengan pihak media dan percetakan. Namun, ada beberapa pondok pesantren yang sudah memiliki percetakan sendiri.

Buku yang dihasilkan oleh para santri, dapat berupa karya puisi, novel, dan cerpen baik dalam bentuk penerbitan tunggal maupun dengan cara bersama-sama atau antologi. Di samping sebagai wujud semangat literasi santri, hal ini juga bisa sebagai bentuk tumbuhnya semangat bersastra di kalangan pesantren. Buku-buku yang dihasilkan para santri nantinya dapat digunakan sebagai buku koleksi perpustakaan yang bisa digunakan oleh kalangan santri dan masyarakat sebagai media dakwah dalam mensyiarkan ajaran Islam melalui  tulisan-tulisan santri.

Bagi santri, menulis sebenarnya merupakan kewajiban untuk menyebarluaskan tulisan-tulisan ulama yang hanya berupa tulisan berbahasa Arab dan kitab kuning. Masyarakat awam akan mengalami kesulitan dalam memahami isi kitab-kitab tersebut. Jadi tugas santri adalah membuat bagaimana isi dari kitab-kitab tersebut dapat dipahami dengan mudah oleh masyarakat awam. Hal tersebut dapat dilakukan melalui penerjemahan, pengkajian, atau mungkin dalam bentuk lain. Dengan keterampilan menulis, santri akan mudah menyebarkan isi-isi dari kitab kuning yang belum dapat dipahami oleh semua lapisan masyarakat.

Kegiatan menulis juga merupakan kesempatan bagi santri sebagai sarana untuk berdakwah. Karena tentunya di pesantren, santri hanya bisa eksis di kalangan santri-santri saja. Namun ketika para santri membuat sebuah tulisan atau buku, maka hasilnya akan lebih bermakna dan bermanfaat di tengah-tengah masyarakat. Dengan menulis, santri bisa membantu menyebarkan ajaran-ajaran Islam dalam bentuk tulisan. Kegiatan itu  juga merupakan sebuah bentuk eksistensi mereka dari kalangan santri.

Untuk memberikan motivasi tambahan, kepada santri juga perlu diberikan pemahaman tentang pentingnya atau manfaat menulis dan membaca. Ada beberapa manfaat menulis yang bisa ditanamkan kepada para santri. Berikut ini beberapa manfaat menulis:

 

1.    Sebagai Kepuasan Diri

Kebiasaan menulis akan menjadi kesenangan tersendiri dalam hidup seseorang. Kita merasa puas dan senang apabila telah mengabadikan buah pikiran kita dalam sebuah tulisan. Kita merasa puas apabila tulisan kita dibaca dan diperlukan orang banyak baik sekadar dibaca atau bahkan mungkin dijadikan sumber rujukan pengembangan ilmu.

2.    Beramal Jariyah

Tulisan kita akan terus dibaca oleh orang-orang, selama tulisan tersebut masih bermanfaat. Isi tulisan itu akan dimanfaatkan oleh pembaca, atau pembaca merasa menemukan ilmu dan manfaat dari buku yang dibacanya. Ketika ilmu yang didapat dari membaca sebuah buku diamalkan dirinya sendiri berarti kita memperoleh amal dari tulisan kita. Apa lagi ilmu tersebut disebarkan lagi kepada orang lain, maka kita akan memperoleh amal yang berlipat ganda, Wallahu a’lam.

 

3.    Sebagai Media Dakwah

Dengan menulis, berarti kita menyampaikan suatu ilmu kepada pembaca. Hal tersebut berupa sebuah dakwah kepada pembaca. Kita mungkin tidak bisa menyampaikan ilmu atau berdakwah secara lisan / secara langsung. Maka,  dakwah bisa kita kemas dalam bentuk sebuah tulisan atau buku, sehingga melalui buku itu kita sudah menyampaikan dakwah bilkalam.

 

4.    Menambah Khasanah Pengetahuan

Dengan menulis, kita pasti butuh ide-ide atau pengalaman baru untuk bahan tulisan. Oleh karena itu kita perlu mencari ide-ide baru yang salah satunya adalah membaca. Kita tahu bahwa membaca dan menulis adalah kegiatan yang saling melengkapi. Dengan banyak membaca berarti akan bertambah pengetahuan dan wawasan kita. Demikian juga hasil tulisan kita atau yang berupa buku, dapat berfungsi sebagai tambahan khasanah ilmu pengetahuan baik bagi si penulis maupun pembaca.

 

5.    Melatih Disiplin Diri

     Di dalam bahasa tulis ada beberapa kaidah yang perlu ditaati. Ketaatan mengikuti kaidah ini menjadi keharusan dalam bahasa tulis. Ketika tulisan kita tidak mengikuti aturan yang semestinya, maka tulisan kita secara kasat mata dapat dinilai kurang memiliki bobot. Oleh sebab itu kita harus konsisten dan hati-hati dalam bahasa tulis. Kebiasaan mengikuti kaidah-kaidah bahasa tulis sebagai bentuk melatih diri dalam menerapkan kedisiplinan kita khususnya dalam berbahasa lisan.

6.    Melatih Kepekaan Sosial

            Ketika kegiatan menulis sudah menjadi kebiasaan atau mungkin berupa kewajiban bagi  kita, dengan sendirinya ada semacam keharusan untuk merekam fenomina sosial yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Dengan melihat dan merekam semua aktivitas sosial, muncullah ide-ide atau gagasan baru yang akhirnya akan menumpuk di pikiran kita. Tugas selanjutnya adalah menuangkan gagasan-gagasan tersebut ke dalam sebuah tulisan baik dalam bentuk artikel, narasi, jurnal, atau bentuk lainnya. Dari hasil tulisan itu akan terlatih kepekaan kita terhadap fenomina sosial yang terjadi di sekitar kita.

7.    Memberikan suatu Hiburan

Tujuan menghibur dalam komunikasi, bukan monopoli media massa, radio, dan televisi. Namun melalui media cetak (tulis) dapat pula berperan dalam menghibur khalayak pembacanya. Tulisan-tulisan atau bacaan-bacaan ringan yang kaya dengan anekdot, cerita, dan pengalaman lucu bisa juga menjadi bacaan penghibur untuk melepaskan ketegangan setelah seharian  sibuk beraktivitas. Dengan membaca cerita-cerita yang ringan seseorang dapat menikmatinya sebagai selingan pengantar istirahat. Banyak orang yang ketika pikirannya kalut, langsung mencair ketika membaca sebuah tulisan yang menyentuh hati kecilnya.

 

8.  Membentuk Pribadi yang Bijak dan Santun
            

Dengan menulis, kepribadian kita akan semakin bijak dan santun. Karena kita telah belajar banyak dan akan terus belajar pada saat diri kita terus mengembangkan tulisan. Kita bukan hanya belajar dan mengambil faidah ilmu begitu saja, namun kita juga banyak belajar dari gaya bahasa dan bentuk tulisan yang menjadi referensi tulisan kita. Ketika tulisan kita menjadi langganan pembaca dalam keseharian mereka, maka dengan sendirinya  kita harus menunjukkan kepribadian yang bijak dan santun.

8.    Melatih Kelancaran Berbicara 

Dengan menulis tentunya diikuti dengan peningkatan kosa kata dan penguasaan tata kalimat bahasa dengan baik. Kebiasaan menggunakan kalimat-kalimat yang bermakna akan terbawa kepada kebiasaan berbicara. Dengan demikian kita akan lebih percaya diri saat berbicara. Kita akan mewarnai kalimat-kalimat yang kita sampaikan dalam berbicara dengan pilihan kata yang halus dan positif, sehingga dapat berpengaruh dalam kualitas kominikasi. Variasi kalimat-kalimat yang kita gunakan dalam bahasa tulis / tulisan akan muncul pada saat kita menyampaikan sesuatu dalam bahasa lisan atau berbicara.

 

 


 

 

 

 

  

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tulis Komenntar Anda di sini