Eksistensi
Pesantren dan Dunia Literasi
(Oleh : H.
Jamad, M.Pd.)
Dahulu, pondok pesantren oleh sebagian orang diasumsikan sebagai
sebuah lembaga yang dijadikan tempat penitipan anak-anak yang nakal atau mereka
yang tak mau nurut dengan orang tuanya. Jika seseorang memiliki beberapa anak,
maka anak yang paling nakal itu biasanya dititipkan di pondok pesantren. Terlepas
dari benar atau salah anggapan itu, yang jelas ketika orang tua mempunyai anak
yang dalam kesehariannya sulit diatur, cenderung nakal, sering membandel,
biasanya orang tua punya rencana menitipkan anaknya di pondok pesantren. Ketika
ditanya orang tentang kelanjutan pendidikan anaknya, mereka mengatakan bahwa anaknya
dipondokkan karena nakal, sering keluyuran bersama teman-temannya. Walaupun hal
tersebut tidak berlaku umum bagi semua orang tua, mungkin stigma itu hanya terjadi
pada orang-orang tertentu yang mungkin karena minimnya informasi tentang pondok
pesantren yang mereka ketahui.
Yang lebih mengherankan lagi, ada sebagian orang tua yang menjadikan pondok pesantren itu sebagai alternatif hukuman bagi anaknya. Mereka melontarkan kalimat yang tidak enak didengar oleh anaknya, misalnya: “Kalau kamu nakal saya titipkan kamu ke pondok pesantren !” Dengan demikian anak merasa bahwa pondok pesantren itu suatu tempat yang menyengsarakan atau hukuman bagi dirinya. Banyak anak yang trauma dengan kata-kata ancaman orang tuanya sehingga kalau dirinya akan dipondokkan, mereka menolak bahkan memilih tidak melanjutkan sekolah. Oleh karena itu pondok pesantren bukan menjadi pilihan favorit bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikannya.
Ada
sebagian juga orang tua yang jika memiliki anak perempuan, mereka memilih meneruskan
putrinya ke pondok pesantren, dengan alasan yang kurang masuk akal. Mereka
menitipkan anaknya ke pondok pesantren hanya dijadikan batu loncata sambil menunggu
waktu untuk dinikahkan. Di pondok pesantren, anaknya cukup disuruh belajar
memperdalam ilmu agama. Kendati mereka
tahu bahwa di sana juga ada sekolah seperti M.Ts. maupun SMP Plus yang ada di
lingkungan pesantren. Mereka tidak menganjurkan anaknya bersekolah belajar ilmu
umum di sana. Menurut mereka bahwa anak perempuan percuma kalau disekolahkan
tinggi-tinggi. Pada akhirnya anak perempuan hanya akan menjadi orang yang
tugasnya cukup di rumah saja (DRS). Mereka beranggapan bahwa anak perempuan
hanya sebatas macak, masak, dan manak, sehingga anak perempuan tidak perlu bersekolah
tinggi-tinggi. Hal tersebut bisa terjadi, mungkin karena keterbatasan informasi
yang dimiliki mereka. Mereka tidak terbuka mata hatinya bahwa sebenarnya orang
otua yang beranggapan sempit seperti itu sudah merampas sebagian hak anaknya
untuk memperoleh pendidikan setara dengan laki-laki.
Namun
seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan zaman, ternyata pondok
pesantren sempat menggeser paradigma lama. Pondok pesantren tidak lagi menjadi trade
mark seperti anggapan orang awam yang tidak tahu banyak tentang pendidikan
di pondok pesantren. Saat ini banyak pondok pesantren yang memiliki santri
ribuan, bahkan santrinya berasal dari berbagai daerah di nusantara. Selain itu
untuk masuk ke pondok pesantren yang favorit seleksinya tidak mudah. Para calon
santri harus melalui seleksi yang ketat dan biasanya dilaksanakan lebih awal
daripada sekolah-sekolah umum. Hal tersebut memberikan kesempatan bagi calon santri
ketika tidak lolos di seleksi pendaftaran, mereka masih memiliki kesempatan
melanjutkan di sekolah umum. Bahkan ada orang tua yang sudah mendaftarkan
anaknya secara inden jauh sebelum pendaftaran dibuka.
Sebagai
contoh, di Jawa Timur ada beberapa pondok pesantren favorit yang memiliki santri ribuan, misalnya
; 1) Pondok Pesantren Al Amien Prenduan, Sumenep,
2) Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, 3) Pondok
Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo, 4) Pondok
Pesantren Darul Ulum, Jombang, 5) Pondok
Pesantren Langitan, Tuban, 6) Pondok
Pesantren Ilmu Al Qur’an, Malang, 7) Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang,
8) Pondok Pesantren As Salafi Al Fitrah,
Surabaya, 9) Pondok Pesantren Amanatul Umah, Pacet, Mojokerto, 10) Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, dan
lain-lain. Dari lulusan pondok pesantren itulah, sudah dihasilkan beberapa
sastrawan, tokoh nasional, menjadi orang
sukses dan terkenal baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Dalam
dunia tulis-menulis, jurnalis, sastrawan, budayawan, dan tokoh politik, juga banyak
yang dari lulusan pondok pesantren. Mereka sempat turut berkontribusi memberikan
warna tersendiri dalam kancah dunia kemajuan termasuk dalam bidang literasi. Mungkin
sudah banyak contoh penulis dari kalangan
pesantren yang sempat mewarnai dunia literasi baik yang berupa fiksi maupun
nonfiksi. Sebut saja misalnya; K.H. D. Zawawi Imron,
Emha Ainun
Nadjib, Prof. Dr. Abdul Hadi MW, K.H.
Ahmad Mustofa Bisri (Gus
Mus), Ahmad
Tohari, Habiburrahman El Shirazy
(Kang Abik), Djamil Suherman,
Ahmad Fuadi, Ma’ mun Affandy, serta
penulis-penulis lain yang belakangan ini bermunculan dari kalangan santri.
Di dalam dunia
pesantren sebenarnya banyak sumber inspirasi yang bisa dijadikan tema tulisan,
karena di pesantren sudah identik dengan dunia belajar. Membaca dan menulis
mungkin sudah menjadi suatu hal yang biasa dilakukan oleh kalangan santri. Kang
Abik (panggilan dari Habiburrahman El Shirazy)
dalam sebuah acara pernah menyampaikan bahwa santri sebagai makhluk unik
yang berada di lingkup pesantren mempunyai potensi yang sangat besar, apalagi
yang ada dalam kehidupan santri sangat menarik apabila dijadikan bahan untuk
menjadi sebuah tulisan atau karya. Menurutnya, para santri sudah terbiasa
mempelajari tentang ilmu bahasa (balaghah). Selain itu ada satu
kelebihan santri, yaitu mereka bisa belajar secara otodidak. Sesungguhnya suatu
kelebihan tersebut yang perlu dikembangkan oleh santri untuk dijadikan bahan
tulisan.
Sebagaimana kita
ketahui bahwa antara menulis dan membaca ibarat dua sisi mata uang, yang di
antara keduanya saling memberikan fungsi dan saling mendukung. Membaca dapat
diibaratkan sebagai sebuah nutrisi untuk mengembangkan tulisan. Dengan banyak
membaca, maka akan menambah kekayaan inspirasi sebagai bahan menulis. Di
lingkungan pesantren antara membaca dan menulis sudah menjadi kebiasaan
sehari-hari. Mungkin hanya perlu energi pendukung untuk menggerakkan bakat dan minat menulis. Adanya dukungan dan stimulus
dari pihak ketiga tentunya sangat penting untuk menumbuhkan bibit bakat yang
ada. Stimulus tersebut dapat berupa; bimbingan dan pembinaan, lomba
menulis, gerakan literasi santri, lomba
membuat resensi yang dimulai dengan membaca buku, diadakan seminar, lokakarya,
bedah buku, dan lain-lain.
Gerakan
Satu Santri Satu Buku (SanTriTuKu) yang dikembangkan oleh sebuah pondok
pesantren adalah sebuah wujud nyata untuk mengembangkan dunia literasi di
kalangan pondok pesantren. Kegiatan semacam ini perlu dikenalkan kepada para
santri untuk menjadi sebuah persyaratan dalam kegiatan akademis. Sebagai
langkah awal bagi santri baru, mungkin diwajibkan membuat tulisan atau makalah
yang selanjutnya dimuat dalam media yang ada di pesantren tersebut. Santri yang
belum menyelesaikan kegiatan ini diberikan bimbingan khusus dan dirinya belum
bisa mengikuti kegiatan akademis berikutnya. Dengan demikian para santri akan
berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi persyaratan tersebut. Demikian juga
bagi santri yang bisa menulis lebih dari batas minimal, perlu diberikan samacam penghargaan sebagai motivasi
bagi dirinya.
Bagi para santri yang sudah terbiasa
menulis, harus dilanjutkan dengan penyusunan buku. Buku-buku yang dihasilkan
oleh santri perlu diberikan reward atau semacam penghargaaan. Penghargaan tidak
harus berupa materi. Ada beberapa alternatif untuk memberikan pengahargaan atau
semacam pengakuan diri dari lembaga misalnya ; 1) buku hasil karyanya dipajang
di perpustakaan, 2) diadakan pameran buku-buku baru, 3) dibuatkan resensi dan
dimuat dalam media pesantren atau media umum, 4) diadakan acara launching atau peluncuran buku baru, 5) menggelar
acara seminar dan bedah buku, dan lain-lain. Penghargaan-penghargaan
semacam itu akan menambah semangat para santri untuk memacu dirinya agar terus
menulis. Kegiatan-kegiatan
tesebut juga berfungsi sebagai latihan untuk mengasah ketajaman santri dalam
dunia tulis-menulis, serta menambah khasanah ke-Islaman.
Agar kegiatan gerakan menulis di
kalangan pesantren bisa berjalan efektif, tentunya perlu adanya dukungan dari
berbagai pihak, terutama dari pihak pengasuh dan pengajar. Pengasuh pondok
memiliki peran penting dalam tercapainya program ini, karena sosok seorang pengasuh
dalam hati santri sebagai panutan mutlak (ta’dzim). Selain itu motivasi dari pengajar atau ustadz / ustadzah
di sana sangat diperlukan. Jika semua pihak terkait sudah bisa berjalan dengan
langkah yang sama dan saling mendukung, langkah selanjutnya adalah menjalin
kerja sama dengan pihak media dan percetakan. Namun, ada beberapa pondok pesantren
yang sudah memiliki percetakan sendiri.
Buku yang dihasilkan oleh para
santri, dapat berupa karya puisi, novel, dan cerpen baik dalam bentuk
penerbitan tunggal maupun dengan cara bersama-sama atau antologi. Di samping
sebagai wujud semangat literasi santri, hal ini juga bisa sebagai bentuk
tumbuhnya semangat bersastra di kalangan pesantren. Buku-buku yang
dihasilkan para santri nantinya dapat digunakan sebagai buku koleksi perpustakaan
yang bisa digunakan oleh kalangan santri dan masyarakat sebagai media dakwah
dalam mensyiarkan ajaran Islam melalui tulisan-tulisan santri.
Bagi santri, menulis sebenarnya
merupakan kewajiban untuk menyebarluaskan tulisan-tulisan ulama yang hanya
berupa tulisan berbahasa Arab dan kitab kuning. Masyarakat awam akan mengalami
kesulitan dalam memahami isi kitab-kitab tersebut. Jadi tugas santri adalah
membuat bagaimana isi dari kitab-kitab tersebut dapat dipahami dengan mudah
oleh masyarakat awam. Hal tersebut dapat dilakukan melalui penerjemahan, pengkajian,
atau mungkin dalam bentuk lain. Dengan keterampilan menulis, santri akan mudah
menyebarkan isi-isi dari kitab kuning yang belum dapat dipahami oleh semua
lapisan masyarakat.
Kegiatan menulis juga merupakan
kesempatan bagi santri sebagai sarana untuk berdakwah. Karena tentunya di pesantren,
santri hanya bisa eksis di kalangan santri-santri saja. Namun ketika para
santri membuat sebuah tulisan atau buku, maka hasilnya akan lebih bermakna dan
bermanfaat di tengah-tengah masyarakat. Dengan menulis, santri bisa membantu
menyebarkan ajaran-ajaran Islam dalam bentuk tulisan. Kegiatan itu juga merupakan sebuah bentuk eksistensi mereka
dari kalangan santri.
Untuk memberikan motivasi tambahan, kepada santri juga perlu diberikan pemahaman tentang pentingnya atau manfaat menulis dan membaca. Ada beberapa manfaat menulis yang bisa ditanamkan kepada para santri. Berikut ini beberapa manfaat menulis:
1.
Sebagai Kepuasan Diri
Kebiasaan menulis akan menjadi kesenangan
tersendiri dalam hidup seseorang. Kita merasa puas dan senang apabila telah
mengabadikan buah pikiran kita dalam sebuah tulisan. Kita merasa puas apabila
tulisan kita dibaca dan diperlukan orang banyak baik sekadar dibaca atau bahkan
mungkin dijadikan sumber rujukan pengembangan ilmu.
2. Beramal Jariyah
Tulisan kita akan terus dibaca oleh
orang-orang, selama tulisan tersebut masih bermanfaat. Isi tulisan itu akan
dimanfaatkan oleh pembaca, atau pembaca merasa menemukan ilmu dan manfaat dari
buku yang dibacanya. Ketika ilmu yang didapat dari membaca sebuah buku
diamalkan dirinya sendiri berarti kita memperoleh amal dari tulisan kita. Apa
lagi ilmu tersebut disebarkan lagi kepada orang lain, maka kita akan memperoleh
amal yang berlipat ganda, Wallahu a’lam.
3. Sebagai Media Dakwah
Dengan menulis, berarti kita
menyampaikan suatu ilmu kepada pembaca. Hal tersebut berupa sebuah dakwah
kepada pembaca. Kita mungkin tidak bisa menyampaikan ilmu atau berdakwah secara
lisan / secara langsung. Maka, dakwah
bisa kita kemas dalam bentuk sebuah tulisan atau buku, sehingga melalui buku
itu kita sudah menyampaikan dakwah bilkalam.
4. Menambah Khasanah Pengetahuan
Dengan menulis, kita pasti butuh
ide-ide atau pengalaman baru untuk bahan tulisan. Oleh karena itu kita perlu
mencari ide-ide baru yang salah satunya adalah membaca. Kita tahu bahwa membaca
dan menulis adalah kegiatan yang saling melengkapi. Dengan banyak membaca
berarti akan bertambah pengetahuan dan wawasan kita. Demikian juga hasil
tulisan kita atau yang berupa buku, dapat berfungsi sebagai tambahan khasanah
ilmu pengetahuan baik bagi si penulis maupun pembaca.
5. Melatih Disiplin Diri
Di dalam bahasa tulis ada beberapa
kaidah yang perlu ditaati. Ketaatan mengikuti kaidah ini menjadi keharusan
dalam bahasa tulis. Ketika tulisan kita tidak mengikuti aturan yang semestinya,
maka tulisan kita secara kasat mata dapat dinilai kurang memiliki bobot. Oleh
sebab itu kita harus konsisten dan hati-hati dalam bahasa tulis. Kebiasaan
mengikuti kaidah-kaidah bahasa tulis sebagai bentuk melatih diri dalam
menerapkan kedisiplinan kita khususnya dalam berbahasa lisan.
6. Melatih Kepekaan Sosial
Ketika
kegiatan menulis sudah menjadi kebiasaan atau mungkin berupa kewajiban bagi kita, dengan sendirinya ada semacam keharusan
untuk merekam fenomina sosial yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Dengan
melihat dan merekam semua aktivitas sosial, muncullah ide-ide atau gagasan baru
yang akhirnya akan menumpuk di pikiran kita. Tugas selanjutnya adalah
menuangkan gagasan-gagasan tersebut ke dalam sebuah tulisan baik dalam bentuk artikel,
narasi, jurnal, atau bentuk lainnya. Dari hasil tulisan itu akan terlatih
kepekaan kita terhadap fenomina sosial yang terjadi di sekitar kita.
7. Memberikan suatu Hiburan
Tujuan menghibur dalam komunikasi, bukan monopoli media
massa, radio, dan televisi. Namun melalui media cetak (tulis) dapat pula
berperan dalam menghibur khalayak pembacanya. Tulisan-tulisan atau
bacaan-bacaan ringan yang kaya dengan anekdot, cerita, dan pengalaman lucu bisa
juga menjadi bacaan penghibur untuk melepaskan ketegangan setelah
seharian sibuk beraktivitas. Dengan membaca cerita-cerita yang ringan seseorang dapat
menikmatinya sebagai selingan pengantar istirahat. Banyak orang yang ketika
pikirannya kalut, langsung mencair ketika membaca sebuah tulisan yang menyentuh
hati kecilnya.
8. Membentuk Pribadi yang Bijak dan Santun
Dengan menulis, kepribadian kita
akan semakin bijak dan santun. Karena kita telah belajar banyak dan akan terus
belajar pada saat diri kita terus mengembangkan tulisan. Kita bukan hanya
belajar dan mengambil faidah ilmu begitu saja, namun kita juga banyak belajar
dari gaya bahasa dan bentuk tulisan yang menjadi referensi tulisan kita. Ketika
tulisan kita menjadi langganan pembaca dalam keseharian mereka, maka dengan
sendirinya kita harus menunjukkan
kepribadian yang bijak dan santun.
8.
Melatih Kelancaran Berbicara
Dengan menulis tentunya
diikuti dengan peningkatan kosa kata dan penguasaan tata kalimat bahasa dengan
baik. Kebiasaan menggunakan kalimat-kalimat yang bermakna akan terbawa kepada
kebiasaan berbicara. Dengan demikian kita akan lebih percaya diri saat
berbicara. Kita akan mewarnai kalimat-kalimat yang kita sampaikan dalam
berbicara dengan pilihan kata yang halus dan positif, sehingga dapat
berpengaruh dalam kualitas kominikasi. Variasi kalimat-kalimat yang kita
gunakan dalam bahasa tulis / tulisan akan muncul pada saat kita menyampaikan
sesuatu dalam bahasa lisan atau berbicara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tulis Komenntar Anda di sini